Lompat ke isi utama
x

Sejarah

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) adalah perguruan tinggi negeri tertua di Aceh. Berdiri pada tanggal 2 September 1961 dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 11 tahun 1961, tanggal 21 Juli 1961. Pendirian Unsyiah dikukuhkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia, nomor 161 tahun 1962, tanggal 24 April 1962 di Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Unsyiah berkedudukan di Ibukota Provinsi Aceh dengan kampus utama terletak di Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, Banda Aceh. Saat ini, Unsyiah memiliki lebih dari 30.000 orang mahasiswa yang menuntut ilmu di 12 Fakultas dan Program Paska Sarjana.

Sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi, Unsyiah memiliki fungsi yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik untuk kebutuhan lokal, nasional maupun regional. Sebagai universitas Jantung Hati Rakyat Aceh yang mengutamakan mutu, Unsyiah mengintegrasikan nilai-nilai universal, nasional, dan lokal untuk melahirkan sumberdaya manusia yang memiliki keselarasan dalam antara IPTEK dan IMTAQ. Keseimbangan diantara keduanya menjadi komponen utama dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, berbudi pekerti, menjunjung tinggi etika, estetika serta berakhlak mulia.

Tanggal 23 Juni 1979 sebagai langkah pertama pembentukan Fakultas Kedokteran Unsyiah Gubernur Daerah Istimewa Aceh waktu itu, Prof. A. Madjid Ibrahim membentuk Badan Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh dengan Dewan Penasehat adalah gubernur dan muspida lainnya, sebagai ketua ditunjuk Muhammad Hasan Basri (Sekwilda Daerah Istimewa Aceh), Wakil Ketua I Prof. DR. Ibrahim Hasan (Rektor Universitas Syiah Kuala) dan Wakil Ketua II Dr. Yulidin Away, sekretaris Dr. Nek Muhammad (Direktur RSU Banda Aceh), Bendahara Dr. Kamaruzzaman sebagai Pembantu Umum merangkap anggota yaitu Drs. Karimuddin Hasybullah, Dr. Ridhwan Ibrahim, Sp. B dan Dr. T. Makmur Mohd. Zein, SKM. Akhirnya pada hari jadi Universitas Syiah Kuala ke XIX tanggal 2 September 1980 di gedung DPRD Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef menandatangani Piagam Peresmian Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Pada tanggal 1 April 1982, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Daoed Joesoef menyampaikan Keputusan Presiden RI No. 16 Tahun 1982 tentang Susunan Organisasi Universitas Syiah Kuala yang diantaranya menyatakan bahwa Universitas Syiah Kuala terdiri dari antara lain Fakultas Kedokteran.

Sebagai upaya memenuhi hasrat seluruh masyarakat di Provinsi Aceh dan umumnya menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa, baik calon mahasiswa yang berasal dari dalam maupun dari luar Provinsi Aceh pada Januari 2003 Fakultas Kedokteran mulai merintis pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis-I (PPDS-I) pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Beberapa bidang ilmu tersebut adalah Ilmu Bedah, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Penyakit Saraf, Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Ilmu Penyakit THT-KL, Pulmonologi dan Respirasi, Anestesi dan Terapi Intensif dan Kardiologi.

Pada tahun 2016 melalui prakarsa dari dr. M. Jailani, Sp.BP-RE(K), dr. Syamsul Rizal, Sp.BP-RE dan dr. Mirnasari Amirsyah, Sp.BP-RE dimulailah proses  pembentukkan Program Studi Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dengan dibuatnya Kesepakatan Kerjasama antara Departemen/SMF Bedah Plastik FK Unair/RSUD dr. Soetomo Surabaya dengan Sub Divisi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik FK Unsyiah/RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang Pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 (PPDS-1) yang menjadikan RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sebagai RS jejaring pendidikan bagi Prodi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik FK Unair. Bulan Oktober 2017 dilakukan pemaparan pembentukkan bakal pusat pendidikan Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik FK Unsyiah di Kolegium Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia di Surabaya dari hasil pemaparan ini dihasilkan beberapa saran dan dukungan kolegium untuk mendukung penuh Unsyiah untuk menjadi pusat pendidikan baru. Untuk memenuhi jumlah staff dan tenaga ahli guna pembentukkan suatu pusat pendidikan baru maka pada Tanggal 15 Januari 2018 dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dengan Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto tentang Rumah Sakit Jejaring dan Pelayanan serta Pendidikan. Dengan perjanjian ini dokter ahli Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik RSPAD Gatot Subroto Jakarta yaitu : dr. Asrofi S. Surachman, Sp.BP-RE(K), dr. Budiman, Sp.BP-RE(K), dr. Guntoro, Sp.BP-RE(K), dr, Denny Sp.BP-RE(K) dan dr. Anastasia D, Sp.BP-RE(K) diangkat menjadi staff pengajar khusus di FK Unsyiah melalui keputusan Kemenristekdikti pada tahun 2018.

Pada tanggal 4 Mei 2018, Kolegium Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia melakukan visitasi ke Banda Aceh untuk melihat kesiapan Universitas Syiah Kuala sebagai calon institusi pusat pendidikan baru, visitasi tersebut di pimpin oleh Prof. Dr. dr. David S. Perdanakusuma, Sp.BP-RE (K) sebagai ketua kolegium dan diikuti oleh  Dr. Dr. Hardisiswo Soedjana, Sp.BP-RE (K), dr. Lisa Hasibuan, Sp. BP-RE (K).

 Kemudian proses pembentukan Prodi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik dilakukan visitasi dari tim Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Pada tanggal 7 Februari 2019 ke Banda Aceh untuk menilai kelayakan persiapan pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik , tim visitasi yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Bambang Supriyatno, Sp.A (K) dan diikuti oleh Prof. Dr. dr. Sukman Tulus Putra, Sp.A (K), Dr. dr. Gema Asiani, M.Kes, dr. Etik Retno Wiyati, MARS dan dr. Siti Yunianti.